Jurnal Gratis: Eye of the Heart Journal

PENGURAI KALAM--Eye of the Heart merupakan jurnal ilmiah peer-reviewed yang menyodorkan sebuah forum untuk menelaah tradisi-tradisi agama dan filsafat. Eye of the Heart membicarakan soal makna batin dari filsafat dan agama melalui jabaran prinsip-prinsip metafisis, kosmologis, dan sotereologis, serta pengejawantahan prinsip tersebut di dalam setiap agama.


Eye of the Heart, sejak edisi keempatnya, karena soal administrasi, sekarang tidak terbit lagi, paling tidak sampai berita ini diturunkan. Terlepas dari hal tersebut, edisi pertama sampai keempatnya tetap dipublikasikan secara open-access (akses-bebas). Dengan demikian, pembaca/pengunjung Pengurai Kalam bisa mengunduhnya dengan mengklik tautan berikut:

  1. Edisi 1
  2. Edisi 2
  3. Edisi 3
  4. Edisi 4
Setelah mengunduhnya, jangan lupa untuk mendiskusikannya bersama kami di sini.

Filsafat sebagai Tradisi Kenabian


Oleh Ronggolawe Ireng
Judul | Islamic Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Suny Series in Islam)
Penulis | Seyyed Hossein Nasr
Penerbit | State University of New York Press
Tahun Terbit | 30 Juni 2006
Tebal Halaman | 380
ISBN | 9780791467992

Bagi yang menganggap bahwa filsafat sekadar nalar jelas perlu sekali untuk membaca buku ini. Dalam buku ini sesuatu yang disebut filsafat bukan sekadar soal nalar dan penalaran, melainkan juga soal intuitif dan tradisi kesinambungan kenabian.

Selayang Pandang Epistemologi Islam

Oleh Ronggolawe Ireng

Judul | Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam
Penulis | Mulyadhi Kartanegara
Penerbit | Mizan Pustaka, Bandung
Tebal halaman | 224
ISBN | 9794333301

Epistemologi Islam? Bagi orang yang hanya menerima atau menegaskan bahwa tradisi filsafat itu hanya khas dunia Barat, boleh jadi mendengar kata epistemologi Islam akan terasa geli—sama halnya ketika mendengar filsafat Timur, seperti Tao, Hindu, Cina, dsb. Hal terlupakan dalam penelaahan historis tradisi filsafat ialah mengapa kehidupan filosofis Yunani tidak pernah dilacak asal-usulnya ketika hal itu bisa diterapkan pada tradisi filsafat lain—dengan asumsi ada tradisi filsafat selain filsafat Barat—seperti filsafat Islam?